perjalanan

Chapter 1
    Lelah sudah langkakhku ini menjalani hari-hari yang menjemukan. Sejak kejadian 2 tahun yang lalu membuatku ingin selalu melampiaskan emosiku yang tak pernah bisa dimengerti oleh kedua orang tuaku. Hari – hari kulewati dengan peasaan yang berisikan dendam. Setiap malam aku memandangi langit kelam yang penuh dengan bintang-bintang dengan nyal kepalsuan yang membuat banyak orang tertarik memandanginya. Mataku enggan terejam memandangi kepulan asap rokok yang dari tadi ku taruh di atas asbak kayu yang sudah berlubang. Bayananku tertuju pada senyum manis seorang gadis yang fotonya sekarang masih kupajang di tembok kamarku yang kusam karena sudah luntur catnya terkena air hujan. Senyum itu terkadang membuatku tertawa sendiri, tapi terkadang juga membuatku mengerti arti kepedihan dalam kenyataan idup manusia yang sangat sulit ku mengerti untuk saat ini. Aku selalu ingat hari-hari yang kuhabiskan bersamanya, hari-hari yang membuatku merasakan indahnya kasih saying. Meskipun banyak tawa tapi juga ada tangis dimana ketika aku dan dia mengalami sebuah konflik kecil yang tidak begitu penting. Tapi semua itu dapat kami selesaikan dengan cepat dan tanpa ada satu dendam yang mengingatkan kami akan penyebab konflik itu terjadi.
    Sebuah masalah kadang memang bias menjadi sebuah pengingat untuk masa lalu yang telah terkubur dalam. Masalah yang menggoncang hidupku saat ini belum bias aku selesaikan, dendam ini ingin segera kuhilangkan dari hati yang sudah semakin tak berperasaan. Aku terlalu lelah menjalani hari-hari seperti ini, hari-hari dengan bayangan dendam yang tak pernah bisa dimengerti oleh siapapun. Dulu aku berpikir hanya dengan alcohol aku bias melupakan semua ini, tapi ternyata aku salah besar. Justru karena pengaruh alcohol rasa dendamku semakin meningkat. Aku pernah mencoba utnuk melampiaskan semua dendam itu dengan tujuan untuk menghabisi semuanya. Tapi semua ittu terhenti saat aku teringat air mata ibuku yang menetes melihatku melakukan kebrutalan karena pengaruh alcohol.
    Ibuku memang tidak seperti kebanyakan ibu-ibu yang lain yang selalu menuruti kata-kata anaknya. Ibuku adalah orang yang keras kepala tapi pendiam, ibu tidak pernah menunjukkan reaksinya secara langsung atas segala tindakanku selama ini. Tapi aku baru sadar bahwa sebenarnya ibu sangat menyayangiku, hal ini terjadi saat aku tergolek lemah dirumah sakit karena penyakit lambung. Sampai delapan hari ibu menjagaku, memberikan apa yang aku butuhkan, memaksaku makan meskipun aku menolak untuk makan. Bahkan kakekku yang dari aku kecil tidak pernah sekalipun menengok aku dirumah, tapi hari itu ketika aku sakit kakek menjagaku seperti cucunya sendiri. Kakekku ada tiga tapi dari ayah satu dan dari ibu ada dua, ibuku sejak kecil tidak ikut ayah kandungnnya karea ibu dipungut sejak kecil. Jadi mungkin ibu tidak pernah merasakan kasih saying dari seorang ayah kandung yang efeknya bias kurasakan saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar